Baru kali ini, dadaku amat sesak.
Sesak karena setangkup rindu yang belum sempat aku titipkan lewat doa.
Ternyata sakit, bahkan teramat sakit.
Sakit karena rindu ini terlanjur terperangkap.
Rindu yang terkepung dan tak mampu menolong dirinya sendiri.
Andai bibir ini tak ragu tuk bersuara meski lirih.
Mungkin hatiku tak sekacau ini.
Sesak karena setangkup rindu yang belum sempat aku titipkan lewat doa.
Ternyata sakit, bahkan teramat sakit.
Sakit karena rindu ini terlanjur terperangkap.
Rindu yang terkepung dan tak mampu menolong dirinya sendiri.
Andai bibir ini tak ragu tuk bersuara meski lirih.
Mungkin hatiku tak sekacau ini.



