Akhirnya uas selesai dan artinya semester 4 telah berakhir. Selamat datang semester 5 (nanti bulan September, sih)! Selamat datang di tahun ketiga menduduki bangku kuliah. Semakin kebelakang aku semakin senang berada dalam keluarga Komunikasi UA. Tapi juga semakin pusing karna tanggungan yang ada semakin banyak, entah tanggungan tugas, atau tanggungan..........umur. Tahun ini, dimana aku akan memasuki kepala 2, aku harus memikirkan banyak hal karena buatku umur 20 ini adalah awal dari.......oke, awal dari semester 5 -_- hahahaha. Bukan bukan, umur 20 katanya sih awal dewasanya seseorang. So.........could u tell me what should I prepare for my 20?
Teknologi berkembang
hari demi hari, menit demi menit, bahkan detik demi detik, terutama pada
perkembangan teknologi baru, internet. Dengan semakin berkembangnya new media atau internet, pengguna dan
transaksi yang terjadi di dalamnya tentu juga semakin meningkat. Banyaknya
penghuni dunia virtual yang sering melakukan transaksi jual beli inilah yang semakin
mendorong kebutuhan akan kemudahan transaksi pembayaran yang global. Kebutuhan
akan kemudahan transaksi pembayaran yang global ini dipenuhi oleh teknologi
pembayaran digital yang bernama Bitcoin. Dunia teknologi baru dikagetkan dengan
munculnya inovasi Bitcoin ini. Bitcoin hadir sebagai hasil perkembangan
teknologi baru yang tidak pernah diprediksi sebelumnya.
Bitcoin adalah sebuah
mata uang digital baru yang muncul pada tahun 2009. Disebut-sebut penemunya
adalah Satoshi Nakamoto. Menurut keterangan yang diberikan oleh Chief Executive
Officer Bitcoin Indonesia, Oscar Darmawan, pada tempo.co, Satoshi adalah
nama samaran yang digunakan hacker penemu Bitcoin. Namun belum diketahui apakah
Satoshi ini adalah perseorangan atau nama kelompok, karena dialek yang
digunakan dalam mailing-listnya
selalu berganti-ganti. Secara sederhana, Bitcoin dapat dikatakan sebagai uang
tunai di internet. Penggunanya hanya perlu menyimpan uang Bitcoinnya di dompet
virtual yang ada di PC, tablet, atau smartphone masing-masing penggunanya.
Seperti yang dirilis di website Bitcoin Indonesia, bitcoin.co.id,
Bitcoin memiliki banyak fitur seperti: penggunya bisa transfer kemana saja,
biaya transfer yang sangat kecil, transaksi bersifat irreversible atau tidak
bisa dibatalkan, transaksinya bersifat anonim, dan tidak dikontrol oleh lembaga
atau pemerintah apapun. Bitcoin bisa digunakan kapan saja dan dimana saja
asalkan terhubung dengan internet.
Seperti yang dilansir
tempo.co, Bitcoin Indonesia pertama kali membeli Bitcoin pada Juli 2012. Saat
itu, kurs beli Bitcoin adalah US$6 sampai US$10 per 1 BTC –sebutan mata uang
Bitcoin-. Tapi kemudian sejak terjadi krisis di suatu daerah yang menyebabkan
warganya beralih ke mata uang Bitcoin, kursnya naik menjadi US$40 hingga
US$200. Bahkan pada akhir 2013 lalu kenaikan nilai Bitcoin mencapai US$800 per
1 BTC. Nilai mata uang ini sangat fluktuatif dan hanya bisa ditransaksikan
dalam bentuk digital. Mata uang ini tidak ada dalam bentuk fisik, jadi bentuknya sangat semu. Untuk mendapatkan bitcoin, kita harus membeli dan
mining. Untuk membeli bitcoin dapat dilakukan di exchanger-exchanger seperti bitcoin.co.id (indonesia), mtgox (US & Jepang),
dan btcchina.com (China).
Menurut Yahoo.co.id,
adopsi Bitcoin di Indonesia berkembang pesat. Tercatat hingga kini ada 1500
pengguna di Indonesia. Namun menurut saya, perkembangan ini belum bisa dikatakan
pesat jika dibandingkan dengan jumlah pengguna internet di Indonesia yang
menurut penelitian Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII)
bersama Badan Pusat Statistik (BPS) mencapai 71,19 juta orang hingga akhir 2013
(Pitoyo, 2014). Jumlah 1500 dari 71,19 juta belum bisa dikatakan pesat. Dengan
demikian, dapat dikatakan bahwa perkembangan Bitcoin ini belum dapat dijangkau
semua pengguna internet di Indonesia. Hal ini dapat disebabkan banyak faktor.
Mungkin memang kehadiran Bitcoin ini menjadi hal yang sangat baru dan
mengagetkan sehingga membuat penasaran. Tapi mengingat banyaknya kontra yang
ditimbulkan, bisa jadi membuat banyak orang ragu untuk menggunakannya. Meskipun
banyak tanggapan negatif terkait munculnya Bitcoin ini, CEO Bitcoin Indonesia,
Oscar, pada kompas.com mengungkapkan bahwa saat ini perkembangan Bitcoin di
Indonesia terus mengalami perkembangan. Sehingga mendorong Bitcoin Indonesia
untuk merencanakan pembukaan ATM Bitcoin di beberapa kota di Indonesia.
Diperkirakan akan dibuka 100 ATM Bitcoin di seluruh dunia.
Sebagai produk
inovasi, tentu ada beberapa hal yang tak bisa dilepaskan darinya. Mulai dari
inovasinya, saluran komunikasinya, waktunya, hingga sistem sosialnya. Jika
dilihat dari perkembangan teknologi masa kini, memang dapat dikatakan bahwa
munculnya Bitcoin sebagai mata uang digital tergolong sangat inovatif. Namun,
proses difusinya di Indonesia menurut saya masih belum menggunakan saluran
komunikasi yang tepat, padahal dalam jangka waktu dua tahun sejak kemunculannya
di Indonesia, harusnya perkembangan inovasi baru ini menimbulkan animo pengguna
internet yang sangat banyak. Saya pribadi melihat munculnya Bitcoin sebagai
sesuatu yang inovatif, sangar, namun
menakutkan dan penuh resiko. Untuk saat ini saya bukan tidak setuju dengan
adanya Bitcoin, tapi saya tidak akan menggunakannya karena banyak pertimbangan
yang memberatkan saya untuk tidak menggunakan Bitcoin saat ini. Tapi mungkin
seiring dengan perkembangannya nanti, sikap saya bisa berubah.
Memang kehadiran
Bitcoin ini menggembirakan, menggiurkan, tapi sekaligus menakutkan. Banyak
sekali pro-kontra, kelebihan-kekurangan, yang melekat pada kemunculan Bitcoin
ini. Yang pertama, Bitcoin sebagai mata uang yang tidak terikat dengan bank dan
negara manapun mampu berperan sebagai mata uang global. Sehingga memudahkan
penggunanya untuk melakukan transaksi internasional. Namun, justru karena tidak
terikat dengan bank dan negara manapun, tidak ada regulasi yang mengaturnya.
Bahkan Bitcoin dapat dikatakan sebagai mata uang ilegal. Tidak ada yang bisa
menjamin keberadaannya. Seperti yang dikatakan Bank Indonesia, Bitcoin bukanlah
mata uang maupun alat pembayaran yang sah. Bank Indonesia juga memperingatkan
pengguna terkait resiko yang akan mereka tanggung jika bertransaksi dengan
Bitcoin. Tidak ada ikatan hukum yang mengatur peredaran mata uang Bitcoin,
sehingga segala resiko ditanggung sendiri oleh penggunanya.
Yang kedua adalah
Bitcoin memfasilitasi penggunanya untuk bertransaksi secara anonim. Bagi
sebagian pihak hal ini bisa dianggap aman karena melindungi identitasnya. Tapi,
dari anonimitas ini bisa memunculkan penjahat-penjahat baru yang tidak bisa
dilacak keberadaannya. Menurut artikel yang dilansir oleh Business Insider,
Bitcoin menjadi sangat berguna bagi para pelaku kejahatan yang ingin
menyembunyikan uang hasil kejahatannya. Karena jika mereka menyimpan uang di
bank, uang hasil kejahatannya dapat dengan mudah terlacak. Bitcoin juga dapat
disalahgunakan oleh orang-orang yang ingin menyembunyikan pendapatannya dari
pemerintah, dan menghindari kewajiban membayar pajak. Lantas, pendapatan negara
dari pajak itu akan hilang karena uang yang tidak terlacak.
Yang ketiga adalah masalah
keamanan. Bitcoin sendiri tidak bisa menjamin keamanan uang virtual
penggunanya. Karena penyimpanannya hanya bersifat semu, yakni di komputer, pc,
tablet, atau smartphone, mungkin saja terjadi ketidaksengajaan yang membuat
hilang uang tersebut. Hanya karena perkara tidak sengaja menghapus dompet
virtual, bisa-bisa uang puluhan juta raib. Selain itu, dompet virtual ini bisa
dihack oleh para hacker. Sehingga
uang Bitcoin tiba-tiba habis seketika. Banyak kejadian negatif yang dihasilkan
dari keberadaan Bitcoin ini. Salah satunya adalah kasus pencucian uang yang
dilansir oleh Malik (2014) di tempo.co. Wakil Presiden Bitcoin Foundation
Charlie Shrem didakwa oleh jaksa Amerika Serikat telah melakukan pencucian uang
karena menyalurkan uang tunai secara online dengan mata uang
Bitcoin. Nilainya mencapai US$ 1 juta. Bitcoin Foundation adalah kelompok
perdagangan yang mengadopsi mata uang digital. Mereka mengoperasikan bisnis penyaluran
uang tak berlisensi.
Jika Bitcoin mengclaim bahwa penggunaan Bitcoin menghemat
waktu karena transaksi dilakukan langsung dari pengguna satu ke pengguna lain
tanpa perantara, menurut saya tidak benar. Karena sebelum adanya transaksi
langsung itu, pengguna harus membeli dulu Bitcoin ke platform yang disediakan.
Dan jika ingin menukarnya kembali, harus menjual Bitcoin. Tetap ada perantara,
yaitu exchanger-exchanger Bitcoin.
Dari beberapa hal
tersebut diatas dapat dikatakan bahwa memang perlu adanya pengamatan mendalam
terkait Bitcoin, mulai dari kelebihan dan kekurangannya, hingga fakta-fakta
menakutkan yang terjadi akibat Bitcoin. Mungkin jika masih menimbulkan banyak
masalah, pada perkembangan mendatangnya, Bitcoin tidak akan bertahan lama. Karena
bersifat global, tidak ada undang-undang yang mengatur persebarannya. Serta
penggunanya enggan menggunakannya karena merepotkan dan beresiko.
· Sumber:
Fitria,
Apriliani Gita. 19 Februari 2014. Cyprus
Krisis, Bitcoin Mulai Masuk Indonesia. Diakses pada 19 Juni 2014 dari http://www.tempo.co/read/news/2014/02/19/090555545/Cyprus-Krisis-Bitcoin-Mulai-Masuk-Indonesia
·
Wong,
Wayne. 15 Mei 2014. Kondisi Bitcoin di
Asia Tenggara. Diakses pada 19 Juni 2014 dari https://id.berita.yahoo.com/kondisi-bitcoin-di-asia-tenggara-084508069.html
· Setiawan,
Sakina R. 17 Februari 2014. ATM Khusus
Bitcoin Akan Hadir Di Indonesia. Diakses pada 19 Juni 2014 dari http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2014/02/17/1644338/ATM.Khusus.Bitcoin.Akan.Hadir.di.Indonesia
·
Malik,
Abdul. 28 Januari 2014. Ditangkap,
Petinggi Bitcoin Didakwa Pencucian Uang. Diakses pada 19 Juni 2014 dari http://www.tempo.co/read/news/2014/01/28/087549008/Ditangkap-Petinggi-Bitcoin-Didakwa-Pencucian-Uang
·
Pitoyo,
Arif. 2014. Jumlah pengguna internet
Indonesia capai 71,19 juta pada 2013. Diakses 13 Mei 2014 dari http://www.merdeka.com/teknologi/jumlah-pengguna-internet-indonesia-capai-7119-juta-pada-2013.html
Siapa
yang tak kenal dengan teknologi? Haram hukumnya hidup di era dengan
perkembangan teknologi yang pesat, tapi tak mengenalnya, apalagi tak
menggunakannya. Tidak ada manusia yang hidup tanpa teknologi, baik teknologi
rendah yang digerakkan oleh energi organik, maupun teknologi tinggi yang
digerakkan oleh energi anorganik atau mesin. Kehidupan manusia pasti
dikelilingi teknologi. Teknologi hadir sebagai ilmu dan alat untuk membantu
pekerjaan manusia agar menjadi lebih efisien dan efektif. Dengan bantuan
teknologi, manusia bisa melakukan pekerjaan secara lebih cepat. Apalagi teknologi
sebagai hasil temuan manusia selalu mengalami perubahan dan perkembangan. Adapun
perubahan dan perkembangan teknologi baru selalu menyempurnakan teknologi
terdahulunya.
Karena
selalu mengalami perubahan dan perkembangan, bentuk teknologi jaman dahulu
dengan jaman sekarang tentulah berbeda. Bayangkan ketika kita kembali pada awal
abad 18 dimana teknologi masih belum secanggih teknologi jaman sekarang.
Bagaimana kita bisa berkomunikasi dengan orang lain? Mungkin kita masih
menggunakan teknologi rendah seperti surat dan bukan telepon. Bagaimana media
cetak membuat surat kabar? Mungkin mereka masih menggunakan jasa manusia untuk
menulis secara manual dan bukan dengan mesin cetak. Bagaimana orang-orang mendapatkan
informasi tentang orang lain sebelum ada media sosial? Mungkin mereka masih harus
menahan malu untuk bertanya secara langsung. Betapa bisa berleha-lehanya kita
sekarang karena teknologi sudah begitu canggih.
Tak
dapat dipungkiri bahwa memang kehidupan manusia sangat tergantung dengan
teknologi, terlebih teknologi baru. Teknologi memang memudahkan manusia dalam
segala hal, sehingga kita ketagihan dalam menggunakannya. Penggunaan teknologi pun
tidak hanya memenuhi kebutuhan manusia, tapi sekaligus memenuhi keinginannya. Apalagi
teknologi yang lebih mutakhir akan selalu muncul. Karena kecanggihannya itulah
manusia menjadi ingin serba cepat melakukan sesuatu, sehingga tak jarang
penggunaan satu teknologi bisa menyelesaikan beberapa hal. Seperti quote dari
Bill Watterson, “All this modern
technology just makes people try to do everything at once” (Kowalczyk,
n.d.). Memang benar, teknologi modern mendorong manusia untuk melakukan banyak
hal sekaligus.
Kecanggihan
teknologi yang akan muncul di masa mendatang pun akan semakin mendorong
keinginan-keinginan yang lain. Sudah banyak wacana yang dibuat manusia dalam
memprediksi perkembangan teknologi di masa mendatang. Wacana itu secara
disadari maupun tidak, sebenarnya sering kita tonton pada film-film barat.
Sebut saja film-film Star Wars yang banyak menampilkan penggunaan teknologi
hologram 3D. Malahan, teknologi ini sudah akan mulai dikembangkan, bukan lagi
sekadar wacana. Seperti yang dikutip dari merdeka.com, sebuah perusahaan asal Polandia
sudah mulai mengembangkan teknologi hologram 3D ini dan diperkirakan 5 tahun
mendatang teknologi ini sudah bisa digunakan untuk berkomunikasi di kehidupan
nyata.
Bayangkan
saja jika teknologi hologram 3D benar-benar berhasil dikembangkan. Jika kita
ingin menonton pertandingan bola tidak perlu datang langsung ke stadion karena
menonton melalui hologram 3D sudah cukup. Atau kita tidak perlu lagi bertemu
untuk berkomunikasi tatap muka. Kita hanya perlu duduk atau bahkan tidur sambil
melihat proyeksi seseorang yang berbentuk tiga dimensi. Inovasi ini tentu
membawa perubahan pada cara berinteraksi manusia. Mungkin masih banyak lagi
inovasi-inovasi teknologi komunikasi yang belum bisa kita prediksi saat ini.
Lalu muncullah asumsi bahwa semakin berkembangnya teknologi, semakin terpengaruh
pula kehidupan kita. Baik dari gaya hidup, cara berkomunikasi, struktur sosial
dan hubungan sosial.
Memang
benar, kemunculan new technology
mempengaruhi perubahan sosial dan gaya hidup manusia. Juga mendorong perubahan
yang signifikan dalam proses interaksi dan komunikasi manusia. Bisa dibayangkan
masa depan kita nanti dengan teknologi, khususnya teknologi komunikasi. Kita
akan semakin mudah mengakses informasi dan berkomunikasi karena penyebaran informasi akan semakin cepat.
Tentu saja hal ini berimbas pada meningkatnya pengetahuan, kemampuan dan
kinerja kita dalam kehidupan bermasyarakat, juga mempengaruhi perubahan sosial
yang terjadi di masyarakat. Misalnya saja, perkara teknologi komunikasi baru
bisa mengubah gaya hidup manusia menjadi lebih konsumtif karena informasi yang
diterima sangat banyak dan menggiurkan. Perubahan-perubahan ini memang berakar
dari kemajuan teknologi. Seperti yang dijelaskan dalam teori Technological Determinism
oleh Chandler (2000) bahwa teknologi adalah penyebab utama pada perubahan dalam
masyarakat. Teknologi mengubah individu dan interaksi sosialnya, karena
fenomena-fenomena yang terjadi di masyarakat disebabkan oleh teknologi.
Perubahan sosial terjadi karena masyarakat berubah dan menyesuaikan diri dengan
teknologi baru yang muncul (Technological
Determinism Theory, 2001).
Pada masa depan nanti, seiring dengan semakin
canggihnya teknologi, kebutuhan akan interaksi sosial secara langsung akan
berkurang karena kita akan memilih bersosialisasi secara virtual. Meskipun
dikatakan bahwa pertemuan tatap muka tidak bisa digantikan oleh apapun, tapi
menilik perkembangan teknologi yang makin pesat, kemungkinan itu bisa saja
berubah. Seperti halnya teknologi hologram 3D yang telah dijelaskan di awal. Di
masa depan, kita mungkin tidak butuh lagi pertemuan langsung karena teknologi
canggih sudah mampu memfasilitasi pertemuan antarmanusia yang seakan-akan nyata.
Interaksi tatap muka yang dianggap paling efektif di masa kini bisa jadi tidak
penting lagi. Misalnya, pada masa depan, pertemuan kuliah antara mahasiswa dan
dosen tidak perlu berada di kelas. Bisa saja kita seakan-akan berada dikelas
padahal sebenarnya kita berada dimana saja. Akhirnya budaya kuliah tatap muka
berubah menjadi tatap layar atau tatap proyeksi. Hubungan dosen dengan mahasiswa
juga pasti berubah, bisa jadi bukan seperti dosen dan mahasiswa tapi lebih
setara dan mempunyai kekuatan yang sama. Yang pasti, teknologi baru memunculkan
hal-hal dan kebiasaan-kebiasaan baru yang berbeda dari sebelumnya.
Adapun
kaitannya dengan hubungan dependensi, kemajuan teknologi membuat kita sangat
nyaman dan seakan tak bisa lepas dari teknologi. Semakin canggih teknologi di
masa depan, semakin tidak mungkin manusia lepas darinya. Kita akan semakin
tergantung dan karenanya pasti akan mencoba menyesuaikan diri dengan kehadiran
teknologi baru. Hal inilah yang menjadi akar dari perubahan-perubahan sosial. Menurut
Medosch (2005), perubahan-perubahan sosial yang terjadi di masyarakat muncul
karena adaptasi masyarakat terhadap teknologi baru yang ada.
Perubahan-perubahan yang termasuk didalamnya tidak hanya dalam hal komunikasi
seperti yang disebutkan diatas, tapi masih banyak hal lain seperti cara
berpikir, bersikap, bertindak, bahkan sistem perekonomian dan cara bekerja
manusia. Perubahan-perubahan inilah yang menjadi pendukung anggapan bahwa
teknologi menjadi faktor determinan perubahan dalam masyarakat.
Secara
keseluruhan dapat dikatakan bahwa di masa depan nantinya, seiring dengan
semakin berkembangnya teknologi, kita akan semakin tergantung dengan teknologi.
Kita sebagai individu, juga sistem sosial di masyarakat akan berubah dengan
pengadaptasian kita terhadap teknologi baru. Artinya,
teknologi baru itulah yang menyebabkan perubahan-perubahan bagi individu maupun
sistem sosial. Perubahan-perubahan itu yang akan membawa kita pada
kebiasaan-kebiasaan baru di masa depan. Sehingga, kehadiran teknologi baru akan
membuka lembaran baru kehidupan manusia. Teknologi baru, kehidupan baru.
Chandler, Daniel
(2000). Technological or Media
Determinism. Retrivied May 3, 2014 from http://www.aber.ac.uk/media/Documents/tecdet/tdet02.html
Kowalczyk, Piotr (n.d). 50 Most Popular Technology Quotes. Retrivied
May 3, 2014 from http://ebookfriendly.com/best-technology-quotes/
Medosch, Armin
(2005). Technological Determinism in Media Art (Dissertation). Retrivied
May 7, 2014 from http://www.thenextlayer.org/files/TechnoDeterminismAM_0.pdf
Susanto, Dwi Andi (2014). 5 Tahun ke depan, telekomunikasi hologram akan menjadi nyata. Retrivied May 7, 2014 from http://www.merdeka.com/teknologi/5-tahun-ke-depan-telekomunikasi-hologram-akan-menjadi-nyata.html
Technological Determinism Theory (2001). Retrieved May 3, 2014 from http://www.uky.edu/~drlane/capstone/mass/determinism.htm
Susanto, Dwi Andi (2014). 5 Tahun ke depan, telekomunikasi hologram akan menjadi nyata. Retrivied May 7, 2014 from http://www.merdeka.com/teknologi/5-tahun-ke-depan-telekomunikasi-hologram-akan-menjadi-nyata.html
Technological Determinism Theory (2001). Retrieved May 3, 2014 from http://www.uky.edu/~drlane/capstone/mass/determinism.htm
Selamat bulan baru! Welkam April! Akhirnya bulan April tiba, dan ternyata udah mau UTS aja. Sesuai komitmen sendiri, aku akan menulis minimal sekali dalam sebulan even pembahasannya nggak penting. Dan ternyata memang tulisanku munculnya hanya di titik minimal, pas banget sekali dalam sebulan haha. Di post kali ini aku ingin membahas mengenai stipo atau tipe-x atau correction pen.
Kemarin sepulang ngampus (iya padahal Hari Raya Nyepi) aku menyempatkan diri mampir ke Grame*** karena pulpenku habis. Aku berkutat cukup lama di bagian pulpen karena kalo nyobain pulpen nggak hanya urek-urek, tapi nulis satu kalimat untuk memastikan pulpen itu nggak macetan. Sampai akhirnya aku bertemu dengan sepaket stipo yang dikemas apik sekali. Packagingnya menarik sekali, sayang aku (me)lupa(kan) mereknya karna harganya...............mahal. Akhirnya pencarianku berlanjut, lihat-lihat stipo. Dan berlanjut lihat-lihat kertas isi binder. Warna warni, tapi aku nggak pernah tertarik. Aku hanya tertarik dengan kertas berwarna putih.
Dan aku baru kepikiran, kenapa semua stipo warnanya putih? Padahal kertas warnanya macem-macem. Bayangkan kalo kertasnya warna pink terus di stipo warna putih, bukannya sebagai correction tapi ngotorin kertas. Memang sih menutupi kesalahan pulpen, tapi menambah kesalahan baru karena warnanya nggak sesuai sama warna kertas. Mending ganti kertas daripada kelihatan aneh dan nggak match.
Apa produsen stipo menggeneralisasikan bahwa kertas itu warna putih sehingga stipo juga diwarnai putih?
Apa putih dianggap sebagai warna suci sehingga juga dianggap mampu "mengoreksi" kesalahan?
Apa mereka merasa bahwa warna putih itu "membersihkan"?
Stipo putih hanya cocok dipakai untuk kertas berwarna putih. Untuk kertas warna-warni, stipo warna putih malah akan menodai warna kertas. Lebih baik ganti kertas baru daripada pakai stipo! Kalau sudah terlanjur nulis banyak dan tiba-tiba terjadi kekhilafan, yasudah potong bagian kertas yang lain dengan warna sama, lalu tempel disitu dengan lem atau double-tape. Kelihatannya lebih cocok meskipun sedikit ribet. Iya sedikit, kalo lem dan gunting sudah tersedia di kotak pensil hehe.
Inilah salah satu alasan kenapa aku nggak mau dan nggak suka dengan kertas berwarna, yaitu karna perkara stipo.
Selamat datang bulan Maret dan selamat datang semester 4. Setelah libur agak lama dan tiba-tiba masuk (nggak tiba-tiba juga sih), aku kaya kena brainwash gara-gara acara televisi yang setiap hari ditonton (karna saking nganggurnya). Memasuki semester 4 ini aku sudah menyiapkan beberapa strategi belajar yang sedikit berbeda dari strategi yang kupake pada semester-semester lalu.
Well, aku nggak akan membahas lebih panjang about that. The point is, kini aku bertambah tua. Yes, kukatakan tua karena kita nggak bisa menghindar dari proses menuju tua, beda sama kedewasaan, yang kalo katanya, KATANYA ya, "Tua itu pasti, tapi dewasa itu pilihan." #tsah
Oke, kukatakan dengan jujur. Kini umurku 19 tahun dan di tahun 2014 ini memasuki kepala 2.
Tapi, kenapa ya setiap ada anak umur 16 or......... yaa at least 17 tahun lah, aku masih merasa seumuran sama mereka. Seperti misalnya ketika ngobrol sama seumuran mereka dan bilang 'Alah, kita kan masih seumuran." SEE? Do I have to feel guilty kalo punya perasaan seperti itu? Mungkin memang jalan pikiran sudah agak berbeda. Tapi ketika aku melakukan "kelakuan umur segitu" masih merasa., "umm well, umurku masih seumuran mereka, jadi wajar lah ya." Tapi setelah dipikir-pikir lebih jauh dan melihat di televisi (meski nggak tau itu kenyataan atau aku hanya terkena efek kultivasi), artis-artis seumuran 20 sudah menikah. It means mereka sudah siap memasuki babak kehidupan baru dan meninggalkan "kelakuan umur segitu."
I couldn't imagine kalo itu terjadi dan I MUST (bukan lagi should or have to) meninggalkan "kelakuan umur segitu." Hellaw, umurku masih seumuran mereka kok. Tua? You don't say.........
Well, aku nggak akan membahas lebih panjang about that. The point is, kini aku bertambah tua. Yes, kukatakan tua karena kita nggak bisa menghindar dari proses menuju tua, beda sama kedewasaan, yang kalo katanya, KATANYA ya, "Tua itu pasti, tapi dewasa itu pilihan." #tsah
Oke, kukatakan dengan jujur. Kini umurku 19 tahun dan di tahun 2014 ini memasuki kepala 2.
Tapi, kenapa ya setiap ada anak umur 16 or......... yaa at least 17 tahun lah, aku masih merasa seumuran sama mereka. Seperti misalnya ketika ngobrol sama seumuran mereka dan bilang 'Alah, kita kan masih seumuran." SEE? Do I have to feel guilty kalo punya perasaan seperti itu? Mungkin memang jalan pikiran sudah agak berbeda. Tapi ketika aku melakukan "kelakuan umur segitu" masih merasa., "umm well, umurku masih seumuran mereka, jadi wajar lah ya." Tapi setelah dipikir-pikir lebih jauh dan melihat di televisi (meski nggak tau itu kenyataan atau aku hanya terkena efek kultivasi), artis-artis seumuran 20 sudah menikah. It means mereka sudah siap memasuki babak kehidupan baru dan meninggalkan "kelakuan umur segitu."
I couldn't imagine kalo itu terjadi dan I MUST (bukan lagi should or have to) meninggalkan "kelakuan umur segitu." Hellaw, umurku masih seumuran mereka kok. Tua? You don't say.........
![]() |
| Source: here |
