Wuih ternyata hampir 1 tahun nggak nulis sama sekali! Kelihatannya setelah lulus kuliah jadi fakir ide buat nulis ya haha. Sejatinya tulisan ini dibuat karena tiba-tiba kepikiran aja, sekalian buat lemesin tangan dan otak, lol. Sebelum melanjutkan menulis, ada warning buat yang ingin ikut baca tulisan ini. Karena tulisan ini nantinya akan merambat ke urusan agama, tolong jangan dikaitkan dengan logika ya bcs ya you know sesungguhnya urusan agama itu urusan kepercayaan masing-masing dan nggak perlu dipertanyakan secara logis hehehe. Dan tulisan ini hanya sebatas sharing, adapun yang terinspirasi alhamdulillah, yang nggak ya anggap aja lagi iseng baca postingan orang nganggur. Mukadimahnya sudah cukup, masuk ke bahasan utama ya!
Well beberapa hari yang lalu aku bersama temen-temen lulusan Komunikasi Unair ikutan Sertifikasi Kompetensi Bidang Komunikasi yang diselenggarakan sama Kominfo featuring beberapa pihak gitu. Lembaga yang ditunjuk buat melakukan sertifikasi adalah LSP TIK.
Sejujurnya, beberapa pekan sebelum tau dan paham tentang acara ini, dosen pembimbing skripsiku dulu sempet menawarkan buat ikutan sertifikasi ini karna kuotanya terbatas. Cuma aku belum tertarik karna masih padat kerjaan.
Suatu ketika H-1 acara berlangsung, salah satu kawan jarkom di grup angkatan tentang acara ini. Katanya kuota masih bisa dimasuki beberapa orang aja. Setelah menimbang dan memikirkan sepanjang malam #busetlebay karena acara ini akan dilangsungkan selama 4 hari dan wajib bermalam, akhirnya aku memutuskan buat ikutan acara ini. Fyi, acara ini dilangsungkan di Hotel Ibis Basuki Rahmat Surabaya.
Singkat cerita, aku baru dateng di hari kedua karna beberapa hal. Jadi di hari pertama yang mana adalah acara pembuka, aku nggak ikutan. Hari kedua waktu aku dateng, langsung ujian praktek. Fyi (lagi), Sertifikasi Kompetensi Berbasis SKKNI Bidang Keahlian Komunikasi ini dibagi lagi jadi beberapa cluster: grafika komunikasi, junior multimedia, video editing dan digital imaging.
Sejatinya aku sempet galau karna bingung mau ambil cluster yang mana. Aku kira, bidang komunikasi yang dimaksud yaa komunikasi teoritis, ternyata praktek. Untungnya, ada satu cluster yang emang aku suka. Alhasil aku ambil cluster grafika komunikasi.
Grafika komunikasi ini bukan lain adalah komunikasi visual/desain plus all about percetakan. Untungnya aku juga sering bolak balik percetakan, jadi sedikit banyak tau tentang percetakan.
Hari kedua itu aku langsung ujian praktek membuat karya visual. Hari ketiga, baru diuji oleh assessor mengenai karya visual yang udah kita buat di hari sebelumnya, plus diuji pengetahuan tentang bidang/cluster yang kita ambil. Setelah melewati ujian ujian itu, finally dan alhamdulillahnya aku dinyatakan kompeten dan berhak mengantongi Sertifikat Kompetensi. Yayness!!
Beberapa hari tinggal bareng dan bertemu banyak orang dari berbagai universitas dari Surabaya maupun luar Surabaya, itu asik banget! Malam terakhir mungkin bisa dibilang jadi malam yang paling berkesan. Menghabiskan waktu bareng-bareng di resto sambil karaokean (LOL). Dilanjut main kartu sampe larut malem. Bener-bener menyenangkan. Thanks anyway buat semua yang udah bikin acara menegangkan jadi menyenangkan :)
Bonus foto nih!
Sejujurnya, beberapa pekan sebelum tau dan paham tentang acara ini, dosen pembimbing skripsiku dulu sempet menawarkan buat ikutan sertifikasi ini karna kuotanya terbatas. Cuma aku belum tertarik karna masih padat kerjaan.
Suatu ketika H-1 acara berlangsung, salah satu kawan jarkom di grup angkatan tentang acara ini. Katanya kuota masih bisa dimasuki beberapa orang aja. Setelah menimbang dan memikirkan sepanjang malam #busetlebay karena acara ini akan dilangsungkan selama 4 hari dan wajib bermalam, akhirnya aku memutuskan buat ikutan acara ini. Fyi, acara ini dilangsungkan di Hotel Ibis Basuki Rahmat Surabaya.
Singkat cerita, aku baru dateng di hari kedua karna beberapa hal. Jadi di hari pertama yang mana adalah acara pembuka, aku nggak ikutan. Hari kedua waktu aku dateng, langsung ujian praktek. Fyi (lagi), Sertifikasi Kompetensi Berbasis SKKNI Bidang Keahlian Komunikasi ini dibagi lagi jadi beberapa cluster: grafika komunikasi, junior multimedia, video editing dan digital imaging.
Sejatinya aku sempet galau karna bingung mau ambil cluster yang mana. Aku kira, bidang komunikasi yang dimaksud yaa komunikasi teoritis, ternyata praktek. Untungnya, ada satu cluster yang emang aku suka. Alhasil aku ambil cluster grafika komunikasi.
Grafika komunikasi ini bukan lain adalah komunikasi visual/desain plus all about percetakan. Untungnya aku juga sering bolak balik percetakan, jadi sedikit banyak tau tentang percetakan.
Hari kedua itu aku langsung ujian praktek membuat karya visual. Hari ketiga, baru diuji oleh assessor mengenai karya visual yang udah kita buat di hari sebelumnya, plus diuji pengetahuan tentang bidang/cluster yang kita ambil. Setelah melewati ujian ujian itu, finally dan alhamdulillahnya aku dinyatakan kompeten dan berhak mengantongi Sertifikat Kompetensi. Yayness!!
Beberapa hari tinggal bareng dan bertemu banyak orang dari berbagai universitas dari Surabaya maupun luar Surabaya, itu asik banget! Malam terakhir mungkin bisa dibilang jadi malam yang paling berkesan. Menghabiskan waktu bareng-bareng di resto sambil karaokean (LOL). Dilanjut main kartu sampe larut malem. Bener-bener menyenangkan. Thanks anyway buat semua yang udah bikin acara menegangkan jadi menyenangkan :)
Bonus foto nih!
Kata pepatah, jangan terlalu benci karena bisa jadi cinta. Dikatakan bahwa garis pemisah antara benci dan cinta itu sangat tipis sehingga sangat rawan.
Mungkin ini yang sedang terjadi ya. Ada satu topik yang sedang ramai dibicarakan di berbagai media termasuk media sosial. Saking seringnya, aku sampai bosan dan mendadak benci. Padahal, benci itu pangkalnya cinta. Maka sebelum aku cinta, buru-buru aku tepis rasa benci itu dan ada baiknya aku menulis saja lah ya, hehe. Sorry, intermezo.
Sebelum kalian menjudge judul dari post ini, aku tekankan bahwa judul ini tidak memihak. Well, tapi kalau kalian merasa judulku ini memihak, silakan aja sih, haha.
Beberapa waktu lalu, kita, para pengguna media -terutama media online-, diributkan soal kekerasan fisik dari guru terhadap anak didik. Sebut saja 'Mawar' 😂 haha. Omong-omong soal Mawar, aku jadi rindu masa kuliah yang sering membicarakan penggunaan nama Mawar sebagai korban suatu perkara, sehingga kami sering mengasihani orang bernama Mawar. Nama yang indah tapi memiliki konotasi..... yang ya begitulah.
Kembali ke topik. Oke, kita nggak usah pakai nama Mawar. Nggak usah juga pakai nama Melati, atau nama bunga-bunga yang lain. Kita putuskan bahwa batasan tulisan ini adalah hanya sebatas opini terhadap topik kekerasan fisik guru pada siswa, bukan mengomentari kasus yang terjadi beberapa waktu lalu itu at all.
Mungkin ini yang sedang terjadi ya. Ada satu topik yang sedang ramai dibicarakan di berbagai media termasuk media sosial. Saking seringnya, aku sampai bosan dan mendadak benci. Padahal, benci itu pangkalnya cinta. Maka sebelum aku cinta, buru-buru aku tepis rasa benci itu dan ada baiknya aku menulis saja lah ya, hehe. Sorry, intermezo.
Sebelum kalian menjudge judul dari post ini, aku tekankan bahwa judul ini tidak memihak. Well, tapi kalau kalian merasa judulku ini memihak, silakan aja sih, haha.
Beberapa waktu lalu, kita, para pengguna media -terutama media online-, diributkan soal kekerasan fisik dari guru terhadap anak didik. Sebut saja 'Mawar' 😂 haha. Omong-omong soal Mawar, aku jadi rindu masa kuliah yang sering membicarakan penggunaan nama Mawar sebagai korban suatu perkara, sehingga kami sering mengasihani orang bernama Mawar. Nama yang indah tapi memiliki konotasi..... yang ya begitulah.
Kembali ke topik. Oke, kita nggak usah pakai nama Mawar. Nggak usah juga pakai nama Melati, atau nama bunga-bunga yang lain. Kita putuskan bahwa batasan tulisan ini adalah hanya sebatas opini terhadap topik kekerasan fisik guru pada siswa, bukan mengomentari kasus yang terjadi beberapa waktu lalu itu at all.
Percakapan dengan dua kawan di sebuah grup chat whatsapp tiba-tiba mengingatkan aku pada kisah cinta Ali Bin Abi Thalib dan Fatimah.
Kisah cinta yang mengingatkan kita bahwa cinta itu tidak bisa diduga, kapan datangnya dan jatuh pada siapa. Bahwa menyerah itu bukan jalan, melainkan berserah, sabar dan ikhlas. Bahwa berhenti itu bukan jalan, melainkan usaha dan doa. Juga kesempatan itu akan selalu ada disaat kita mau mencari.
Mengutip kalimat galau yang pernah kutulis di postingan yang sangat lampau,
Jika kita terpisah oleh jarak, masih ada waktu yang mempertemukan kita.
Cerita cinta Ali juga lah yang mengingatkanku, bahwa sejatinya tak ada yang perlu diragukan dari semua hal di dunia ini, termasuk urusan cinta. Karena apa? Tuhan telah mengatur dan tugas kita hanya berdoa dan berusaha. Tak perlu ragu. Cukup yakin dan saling memperbaiki diri. Kelak akan hadir cinta yang tak terduga.
Kisah cinta yang mengingatkan kita bahwa cinta itu tidak bisa diduga, kapan datangnya dan jatuh pada siapa. Bahwa menyerah itu bukan jalan, melainkan berserah, sabar dan ikhlas. Bahwa berhenti itu bukan jalan, melainkan usaha dan doa. Juga kesempatan itu akan selalu ada disaat kita mau mencari.
Mengutip kalimat galau yang pernah kutulis di postingan yang sangat lampau,
Jika kita terpisah oleh jarak, masih ada waktu yang mempertemukan kita.
Jika kita terpisah oleh waktu, masih ada hati yang mempertemukan kita.
Tapi jika kita terpisah oleh perasaan, maka Allah lah yang akan mempertemukan kita.
Cerita cinta Ali juga lah yang mengingatkanku, bahwa sejatinya tak ada yang perlu diragukan dari semua hal di dunia ini, termasuk urusan cinta. Karena apa? Tuhan telah mengatur dan tugas kita hanya berdoa dan berusaha. Tak perlu ragu. Cukup yakin dan saling memperbaiki diri. Kelak akan hadir cinta yang tak terduga.
Sebelum bicara mengenai judul, aku ingin mengucapkan Selamat Puasa untuk yang menjalankan, ya! Jarak dari postingan lalu memang nggak terlalu jauh, tapi aku belum sempet menyapa bulan Ramadhan, hehe.
Well, sebetulnya udah beberapa kali aku klik new post tapi ku close lagi karna belum ada ide tulisan. Tapi hari ini, akhirnya aku menemukan ide untuk bahan postingan blog haha.
Ada yang bisa nebak kah judulku itu me refer ke siapa atau apa?



